Abstraksi

 Berbagai sistem komunikasi ada di dunia ini untuk mempermudah menyampaikan pesan yang diinginan penutur agar pesan diterima dengan baik oleh penerima pesan. Bentuk-bentuk komunikasi itu dapat berupa sistem tulisan, gesture, bahasa isyarat, sistem tanda lalu lintas, atau kemampuan wicara. Masing-masing bentuk penyampaian pesan ini memiliki fungsi dan karakteristik masing-masing sesuai dengan keinginan pengguna sistem-sistem tanda ini. Sistem tulisan terbentuk sebagai salah satu cara merepresentasikan atau mendenotasikan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Menurut Martinet, karakter tulis merupakan tanda atau sekelompok tanda yang secara konvensional merepresentasikan satu bentuk linguistik. Dalam tulisan ini, kami mengkaji huruf Kanji yang terdapat dalam bahasa Jepang sebagai salah satu bentuk sistem tulisan selain hiragana dan katakana. Selama ini pengajaran kanji dalam pelajaran bahasa Jepang baik di tingkat sekolah menengah, perguruan tinggi, maupun lembaga-lembaga kursus bahasa dirasakan sulit dan tidak menarik. Untuk meminimalisasikan kesulitan dalam mempelajari kanji, diperlukan cara-cara untuk memahami makna melalui unsur-unsur pembentuknya, yaitu : asal pembentukan, bagian-bagian kanji (bushu 部首), dan makna yang dikandung di dalamnya. Misal karakter kuchihen ( 口) yang merupakan lambang yang berhubungan dengan mulut atau bibir. Karakter ini bila digabungkan dengan karakter lain dapt membentuk makna baru yang berkaitan dengan mulut, bibir, atau bicara. Berdasarkan cara pembentukannya yang dapat ditinjau dari sisi semiotika, kanji dapat dikelompokkan menjadi ikon, indeks, dan simbol. Seperti karakter yama (山)yang merupakan lambang yang ditiru dari tiga buah gunung,  dan karakter mori (森)yang merupakan karakter yang berasal dari tiga buah karakter ki (木) yang digabungkan sehingga menimbulkan makna hutan (kumpulan pohon-pohon).  Yama (山) merupakan contoh ikon dan  mori (森) merupakan contoh indeks. Contoh lainnya adalah karakter eki (駅) yang merupakan tanda yang mengacu pada pada konvensi budaya masyarakat Jepang. Eki (駅) terdiri dari dari gabungan dua buah kanji yaitu uma (馬) dan shaku (尺). Uma berarti kuda, dan shaku berarti tongkat pengukur. Gabungan kedua buah kanji ini berarti stasiun. Lambang ini muncul karena pada zaman dahulu perjalanan jauh antar desa ditempuh dengan cara menunggang kuda dan jaraknya dapat diukur dengan menggunakan alat ukur tertentu. Dengan melakukan kategorisasi terhadap kanji-kanji sederhana diharapkan proses kognitif dalam mengingat dan menafsirkan makna kanji menjadi lebih mudah sehingga pengajaran kanji menjadi lebih menarik.

Kata kunci : kanji, ikon, indeks, simbol

 

PENDAHULUAN

Latar belakang masalah

–          Bahasa Jepang merupakan salah satu bahasa yang banyak diminati untuk dipelajari sebagai alat bantu komunikasi bisnis sehingga peminat pembelajar bahasa Jepang meningkat.

–          Karakteristik bahasa Jepang yang memiliki sistem ortografi tersendiri mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi untuk mempelajarinya sehingga diperlukan cara yang mudah dan menarik dalam proses pembelajarannya. Selama ini diberikan dengan cara hapalan.

–          Makna suatu tanda terikat dengan konteksnya. Dalam hal ini huruf kanji dapat berdiri sendiri atau terikat secara sintaksis.

 

Identifikasi masalah

–          Kanji sebagai salah satu bentuk sistem tulisan dalam bahasa Jepang memiliki sistem yang cukup rumit dalam hal cara menulis, cara membaca, dan proses penafsiran makna yang melekat pada sistem tulisan tersebut.

–          Memahami makna yang ada pada suatu huruf kanji dapat melalui kajian semiotika berdasarkan teori Peirce mengenai ikon, indeks, dan simbol sehingga pemahaman makna secara utuh, bukan melalui hapalan.

 

Rumusan masalah

Bagaimanakah  cara memahami makna suatu kanji dengan memperhatikan asal pembentukan huruf kanji tersebut sebelum mempertimbangkan makna kanji tersebut dalam konteks kalimatnya?

 

Tujuan penelitian

–          Mengklasifikasikan kanji sederhana yang diajarkan pada pembelajar bahasa Jepang tingkat pemula berdasarkan sistem tanda Peirce.

–          Mengidentifikasi makna yang terdapat dalam suatu kanji pada proses signifikasinya secara tunggal dan memperhatikan kedudukannya dalam suatu tata kalimat. Memudahkan proses kognisi

–          Merekayasa suatu metode praktis dan menarik dalam pembelajaran kanji agar pembelajar bahasa Jepang mudah dalam menafsirkan maknanya tanpa melihat kamus terlebih dahulu.

 

Manfaat penelitian

–          Memberikan pengetahuan mendasar yang mudah dan menarik mengenai makna kanji yang baru diketahui tanpa menggunakan kamus sebagai referensi awal

–          Meningkatkan minat pembelajar bahasa Jepang untuk menghilangkan kesan bahwa mempelajari kanji adalah suatu hal yang sulit.

 

PROSES REPRESENTASI KARAKTER KANJI

Bangsa Jepang memiliki tulisan yang sangat kompleks. Ada huruf yang melambangkan makna sekaligus melambangkan bunyi pengucapannya seperti karakter kanji, hiragana dan katakana yang melambangkan bunyi silabik, dan romaji yang melambangkan sebuah fonem.

Sebuah kanji dapat menyatakan arti tertentu sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah kanji hampir sama dengan jumlah benda yang ada di dunia. Dalam daikanwa jiten (kamus besar kanji) terdapat kurang lebih 50.000 buah kanji. Namun pada tahun 1900, Monbusho (kementrian pendidikan Jepang) menetapkan 1200 buah kanji yang harus dipelajari di tingkat sekolah dasar. Pada tahun 1981 ditetapkan daftar  jouyoukanji (kanji untuk penggunaan sehari-hari) sebanyak 1945 buah kanji.

Bahasa Jepang dikenal sebagai bahasa yang kaya dengan huruf, tetapi miskin dengan bunyi. Bunyi dalam bahasa Jepang terdiri dari lima buah vokal, yaitu a, i, u, e, dan o, dan beberapa buah konsonan (k,s,t,n,h,m,y,t,b,g,d,z,c,j) yang diikuti oleh vokal tersebut dalam bentuk suku kata terbuka.

Dalam mempelajari kanji ada tiga unsur penting yaitu bentuk, cara baca dan arti. Memahami bentuk dapat dilakukan dengan melakukan analisis semiotik.

Menurut Peirce, tanda terdiri dari tiga komponen, yaitu representamen, interpretan, dan  obyek. Representamen adalah bentuk yang tidak semata fisik. Interpretan adalah kesan yang ditimbulkan tanda dalam pikiran pemerhati yang dapat menjadi tanda yang lain. Obyek adalah apa yang direpresentasi oleh tanda. Interpretan merupakan komponen yang eksplisit. Obyek tidak bersifat apa adanya namun disimpulkan sehingga makna sebuah tanda akan sangat bergantung pada konteksnya. Proses pemaknaan dapat berlangsung dari representamen ke interpretan atau sebaliknya. Berdasarkan hubungan antara tanda dengan obyeknya, Peirce membagi tanda menjadi ikon, indeks, dan simbol.

Ikon merupakan satu obyek yang memiliki relasi kemiripan dengan obyek lain sedemikian rupa sehingga kita bisa mengidentifikasi obyek tersebut dengan obyek lain. Menurut Peirce, ikon merupakan tanda yang mengacu pada suatu obyek dimana hubungan tanda dengan obyeknya didasarkan atas kesamaan ciri dan sifatnya. Di sini kita dapat mengamati kemiripan antara tanda dengan obyek yang dimaksud.

Indeks merupakan tanda yang mengacu pada suatu obyek dimana tanda dipengaruhi oleh obyek tersebut.

Simbol merupakan tanda yang mengacu pada obyek dimana hubungan antara tanda dan obyeknya didasarkan pada suatu aturan, hukum, atau konvensi.

Signifikasi merupakan hubungan evokasi timbal balik yang menyatukan nama dengan maknanya. Ketika melihat tanda dalam sebuah obyek, maka kita sama saja mengatribusikan kepada obyek itu beberapa signifikasi virtual. Menginterpretasi tanda dalam arti tertentu sama saja dengan mengistimewakan salah satu di antara signifikasi tersebut dengan menggunakan sesuatu yang sudah kita ketahui.


KARAKTER KANJI SEBAGAI SEBUAH BENTUK TANDA

 karakter kanji yang terbentuk dari perubahan imaji obyek alam. Contohnya adalah:

1. Karakter indikatif, yaitu karakter kanji yang dirancang  berdasarkan hubungan antara obyek. Karakter ini melibatkan makna abstrak yang terkait pada pola hubungan tadi. Contohnya adalah

上 (ue)     à       atas

下 (shita) à       bawah

一 (ichi)   à        satu

二 (ni)      à        dua

三 (san)   à        tiga

2. Ideograf  majemuk, yaitu karakter yang terbentuk dari gabungan dua atau lebih kanji dasar menjadi satu bentuk tunggal dalam bunyi dan makna. Kanji baru dengan makna kompleks dan abstrak muncul. Kebanyakan terdiri dari sebuah bagian yang mengandung makna dan sebuat bagian ornamen. Contohnya adalah:

休 (yasumi)          à        orang+pohon   à        istirahat

林 (hayashi)          à        pohon+pohon  à        hutan

語 (kotoba)           à        bicara+mulut   à        bahasa

3. Karakter derivatif, yaitu karakter yang menyatakan suatu makna yang diturunkan dari kanji dasar. Contohnya adalah kanji yang menyatakan uang berasal dari kanji yang bermana emas atau logam berharga.

金 (kin)     à emas, uang

4. Karakter gabungan ideo-fonogram, yaitu karakter kanji baru yang terbentuk dari   penggunaan bagian dari suatu kanji untuk menyatakan makna dan bagian lain yang memberikan bunyi. Kira-kira karakter seperti ini berjumlah 80% dari jumlah keseluruhan kani yang terbentuk dengan cara seperti ini.

明 (mei) à menjelaskan

清 (sei)     à membersihkan

5. Karakter substitusi, yaitu karakter yang digunakan untuk menggantikan obyek atau konsep yang tepat ketika tidak ada karakter yang tepat untuk menggambarkan baik makna maupun bunyinya. Bunyi yang melekat pada karakter ini tidak ada kaitannya dengan makna.  Contohnya adalah:

亜 à        a

米 à        me

利 à        ri

加 à        ka

 

Kanji majemuk

Karakter kanji pada umumnya dikelompokkan dalam dua atau lebih kanji untuk membentuk konsep yang lebih rumit. Gabungan ini disebut jukugo atau kanji majemuk. Hubungan antar karakter dapat diklasifikan berdasarkan hubungan antara dua buah kanji atau lebih, yaitu:

  • Hubungan aktif
  • Hubungan menjelaskan
  • Hubungan paralel
  • Hubungan komplementer
  • Hubungan konfirmasi

Contoh kanji majemuk

口 (mulut)     + 鳥 (burung)                     = 鳴                     naku                menangis

木 (pohon)    + 木 (pohon)                       = 林                         hayashi            hutan

木 (pohon)    + 林 (hutan)                     = 森                          mori                 hutan lebat

女 (wanita)    + 子 (anak-anak)              = 好                          konomu           suka

人 (orang)     + 本 (buku)                       = 体                            karada              badan

羊 (kambing) + 大 (besar)                     = 美                           utsukushii        cantik

門 (gerbang)  + 口 (mulut)                     = 問                      tazuneru           bertanya

幸 (bahagia)  + 口 (mulut)                     = 言                           iu                     berbicara

Makna kanji

  1. Makna tunggal
  2. Makna majemuk

Menafsirkan makna/proses signifikasi berdasarkan asal pembentukan (漢字の成り立ち)

 

Penggunaan kanji (menu, tanda, budaya)

toponimi 品川、東京、秋葉原、駐車場、 渋谷駅

petunjuk jalan 右側通行  左側通行、みどりの窓口

大人, 小人

petunjuk darurat でぐち 入口 危険,禁煙,非常口

 

menu restoran    天丼   親子丼